TRENDING NOW

Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah
Pendahuluan
Keberhasilan usaha pembenihan Lele sangat tergantung kepada ketersediaan pakan alami, pakan hidup, berupa Cacing Sutra (Tubifex sp) yang sementara itu masih mengandalkan pencarian tangkapan dari alam yaitu dari parit saluran air yang banyak mengandung bahan organik sisa sisa dari limbah pasar atau limbah rumah tangga yang mengalir di saluran /parit pembuangan .
Ketersediaan cacing ini di alam tidak kontinyu sepanjang tahun, terutama pada musim penghujan   akan sulit mendapatkannya, padahal saat itu kegiatan pembenihan lele lagi gencar-gencar nya. Untuk itu maka Budidaya Cacing (Tubifex) ini merupakan alternatif  karena kalau menggunakan pakan hidup berupa Artemia khususnya untuk usaha pembenihan Lele menjadi kurang ekonomis.
Usaha budidaya cacing ini terjadi berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman di lapangan yaitu pengamatan pada saat pemanenan pembesaran ikan lele konsumsi mengalami masalah untuk membuang air limbah organik yang kemudian ditampung di kolam yang kurang produktif, kuarang dapat menampung air. Hal ini dilakukan berulang kali setiap panen ikan, secara tidak sengaja di kolam tersebut mulai terlihat banyak cacing yang tumbuh dan berkembang.  Dari pengamatan dan pengalaman inilah kami  kemudian mencoba cacing ini untuk dirawat  dipelihara  dibudidayakan  sampai saat ini.

Cacing sutra (Tubifex sp) dapat dibudidayakan dan dapat digunakan langsung untuk ikan larva atau benih ikan. Tubifex sp dapat juga di simpan dalam bentuk cacing beku (fresh) maupun kering (oven)
Klasifikasi
Filum        : Annelida
Kelas        : Oligochaeta
Ordo        : Haplotaxida
Famili        : Tubificidae
Genus        : Tubifex
Spesies     : Tubifex sp

Proses Budidaya
Kegiatan Budidaya Cacing sutra yang kami lakukan sangat simple dan sederhana sehingga dapat dilakukan oleh para UPR asalkan tersedia limbah air kolam hasil pembuangan dari kolam pembesaran ikan Lele. Adapun urutan kegiatannya sebagai berikut   :
1. Pengolahan lahan.
Kolam yang kurang produktif untuk budidaya ikan dikeringkan dan diolah, kemudian masukkan air limbah dari pembuangan hasil pembesaran ikan Lele. Luas kolam yang digunakan berkisara antara 60-100 m2.
2.  Pengendapan air.
Air yang masuk di endapkan selama 3-5 hari. Setelah di endapkan air yang tergenang diturunkan hingga 5 – 10 cm dari permukaan lumpur kemudian lumpur diratakan dengan sorok sehingga permukaan lumpur menjadi rata dan dibiarkan selama beberapa hari. Proses ini di ulangi 2 – 3 kali hingga lumpur halus yang ada di kolam cukup banyak.
3. Penebaran benih.
Tebar bibit cacing indukan sebanyak 10 gelas (2-3 liter), kemudian airi dengan ketinggian 5-7 cm. 
4.    Perawatan.
Selama masa pemeliharaan air di usahan mengalir kecil sehingga ketinggian air pada 5-10 cm. Setelah 10 hari biasanya bibit cacing sutra mulai tumbuh halus dan merata di seluruh permukaan lumpur dalam kolam. Ulangi lagi proses penambahan air buangan panen ikan lele ke dalam kolam budidaya cacing sutra maka setelah 2-3 bulan cacing mulai dapat dipanen.

Panen
Pemanenan pertama dapat dilakukan setelah 75-90 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari.  Proses pemanenan cacing sutra yaitu dengan cara menaikkan ketinggian air sebesar 50-60 cm kemudian cacing dan lumpur di keruk dengan caduk dimasukkan dalam baskom kemudian dicuci dengan saringan. Cacing yang didapat masih bercampur dengan lumpur dimasukkan ke dalam ember atau bak yang berisi air, kira-kira 1 cm diatas media budidaya/lumpur. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 1 – 2 jam. Cacing akan bergerombol diatas media dan dapat diambil dengan tangan untuk dipisahkan dari media/lumpur kemudian dimasukkan dalam bak pemberokan selama 10-12 jam. Cacing siap di berikan kepada benih ikan.

Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah
Red Water System adalah salah satu cara baru dalam budi daya ikan dengan memanfaatkan bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces dalam proses pembesaran benih ikan tanpa ganti air kolam hingga panen.

Tumpukan kotoran ikan dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam dapat mengganggu kesehatan ikan. Nah, pada RWS (Red Water System) ini memanfaatkan tumpukan kotoran ikan dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam menjadi kebutuhan pakan bagi bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces yang akan diserap sebagai pakan utamanya.

Sistem ini sangat cocok bagi anda yang menjadikan budi daya ikan usaha sampingan. Karena RWS ini tidak membutuhkan perawatan yang sulit dan menghemat biaya produksi. Jenis ikan yang biasa digunakan untuk sistem RWS ini adalah ikan lele.

Ideal untuk penebaran benih ikan lele dalam jumlah 300 ekor/m3 tanpa bantuan aerasi dan 500 ekor/m3 dengan bantuan aerasi tanpa perlu mengganti air hingga panen. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui sebelum melakukan budi daya ikan dengan sistem RWS.

Bahan-Bahan
  • 18 liter air bersih.
  • 4 botol yakult.
  • 2 butir ragi tape.
  • 1 liter molasses/ tetes tebu. Jika tidak ada bisa menggunakan gula merah sebagai pengganti.
  • 1 butir air kelapa murni dari jenis kelapa yang sudah tua.
  • 0,5 kg dedak halus.
 Mengolah Bahan
  • 18 liter air bersih dimasukkan ke dalam bak bersih.
  • 2 butir ragi tape ditumbuk halus.
  • Kemudian 4 botol yakult, 2 butir ragi tape yang sudah dihaluskan, 1 liter molasses, air kelapa murni dan dedak halus dimasukkan dan diaduk hingga rata dalam bak berisi air bersih.
  • Kemudian bak ditutup selama 6-7 hari agar terjadi proses fermentasi yang sempurna.
  • Proses fermentasi yang berhasil ditandai dengan cairan di dalam bak berubah warna menjadi cokelat dan berbau alkohol.
Pengaplikasian pada Kolam Ikan Lele

Kolam yang berisi air bersih dan benih ikan lele diberi tetesan fermentasi setiap hari dan secara merata ke seluruh permukaan kolam.  Setiap 1 m3 kolam, diteteskan 100 ml bahan fermentasi atau setara dengan setengah botol air mineral kecil. Pemberian bahan fermentasi dilakukan setiap hari dengan jarak 24 jam hingga masa panen. Letakkan arang di pinggir dinding dasar kolam ikan yang berguna untuk sisa kotoran ikan yang tidak dimakan oleh bakteri Lactobacillus dan bakteri Sakaromises di dalam air kolam lele.

Pemberian Pakan  
Sebelum memberikan pakan pada ikan lele, sebaiknya pakan dicampur dulu dengan larutan prebiotik dan dianginkan sebelum ditebar ke kolam. Air kolam perlahan-lahan akan berubah warna menjadi merah akibat penetesan bahan fermentasi. Disarankan untuk memasang dua titik selang aerasi udara.
Tujuannya untuk mengaduk bakteri Lactobacillus dan bakteri Sakaromises yang berada di dasar kolam agar dapat terus berada merata di semua area kolam.


Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah
Cara pemijahan ikan komet (Carassius auratus-auratus) adalah sejenis ikan yang dibudidayakan sebagai ikan hias, ikan komet memiliki bentuk yang variatif dengan pola dan warna yang unik. Ikan komet termasuk kerabat Cyprinidae , dengan warna yang unik seperti cara pemijahan budidaya ikan mas, dan Cara pemijahan ikan mas koki mutiara.  Adapun jenis-jenis ikan mas konsumsi yang perlu diketahui.

Ikan komet bertelur banyak, ikan ini bertelur sembarangan dan diserakkan bisa ditanaman air atau dijatuhkan di dasar perairan. Ikan komet dapat sering terkena penyakit jika kondisi kolam cepat kotor, sebab yang sering muncul dikarenakan ikan komet banyak membuang kotoran yang dapat menjadikan kolam cepat kotor. Ikan komet (carassius auratus-auratus) merupakan jenis ikan yang hidup diperairan tawar dengan kondisi perairan tenang dengan udara sejut.

Reproduksi Ikan Komet
Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan mas aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan.

Sifat telur ikan Komet adalah menempel pada substrat. Telur ikan Komet berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa. Antara 2-3 hari kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan Komet mempunyai kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari.

Larva ikan Komet bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,50,6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan Komet memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina, dan daphnia. 

Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70% dari bobotnya. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 1-3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.

Parameter Pemijahan Ikan Komet

Umur Ikan    Suhu                               pH          Oksigen     Umur Indukan    Jumlah Telur
Ikan Besar    21-28 Derajar C             5.5-7,5    >4              > 8 Bulan            >1000-5000
Larva Ikan    26-29 Derajat C             5.5-7,5    >5       

1. Persiapan wadah pemijahan Ikan Komet
  • Sediakan aquarium ukuran min 60x40x40 cm
  • Air yang digunakan untuk pemijahan ini adalah air yang berasal dari air sumur yang sudah diendapkan selama 24 jam,
  • Ketinggian air pemijahan 30 cm,
  • Sediakan substrat tanaman air dan tanaman mengapung seperti eceng gondok

2. Memilih induk Ikan Komet
  • Ciri - Ciri indukan ikan komet yang sudah matang gonad sebagai berikut :
  • Induk Jantan Ikan Komet
  • Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
  • Induk yang telah matang jika diurut pelan kerarah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih

Induk Betina Ikan Komet
  • Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
  • Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahan.
  • Perbandingan jumlah induk Ikan Komet untuk pemijahan adalah 1 : 2 ( jantan : betina) , induk harus sudah matang gonad dengan umur minimal 8 bulan, jika di lihat secara kasat mata ikan yang matang gonad biasanya sudah mulai kejar - kejaran jika digabungkan satu kolam.
3. Pemijahan Ikan Komet
  • Induk dimasukkan dalam akuarium yang sudah dilengkapi dengan tanaman air. Pemijahan ikan komet berlangsung pada malam hingga waktu dini hari. Induk dimasukkan pada sore hari, biasanya besok sudah menempel pada enceng gondok.

4. Penetasan telur Ikan Komet
  • Setelah pemijahan induk ikan komet diangkat atau dikeluarkan dari dalam akuarium.
  • Setelah 2 – 3 hari telur akan menetas, setelah menetas kemudian enceng gondok diangkat dari dalam akuarium.
  • Buang air separu ganti dengan yang air baru yang sudah diendapkan secara hati-hati
5. Pemeliharaan Larva Ikan Komet
  • Larva umur 7 hari hanya sebesar jarum, sudah dapat memakan pakan alami, sesuai ukuran mulut ikan
  • Pemberian pakan tambahan diperlukan setelah 15 hari pemeliharaan. Memasuki pemeliharaan 15 hari kedua harus ada aliran air masuk, apalagi setelah pakan tambahan mulai diberikan. Genap diusia sebulan, anak komet mulai tampak bentuk aslinya.
Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah
Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan Bawal – Ikan bawal merupakan salah salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki pertumbuhan yang sangat cepat di bandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Ikan bawal ini tidaklah sulit di budidayakan, dan juga tidak memakan waktu yang sangat lama.

Ikan ini bisa di budidayakan di kolam semen, kolam tanah, kolam terpal dan juga kolam lainnya. Namun, salah satu kendala yang akan di hadapi saat budidaya ikan bawal ini adalah hama dan juga penyakit. Hama dan penyakit ini adalah hambatan atau kendala utama yang akan di hadapi dalam proses pembenihan, pembesaran dan juga lainnya. Oleh karena itu, harus di lakukan pengendalian hama dan penyakit dengan maksimal.

HAMA IKAN BAWAL
Bebeasan ( Nototecta )
Gejala : ikan akan mudah luka, terdapat juga bintik bulat berwrna kemerahan dan ikan akan hilang atau habis.
Pengendalian :
Melakukan pengurangan bahan organik di dalam kolam. Melakukan pembersihan kolam, dan juga menghilangkan tanaman yang terdapat di kolam.
 
Ucrit
Gejala : ikan yang terserang akan mati, dan juga  berbusah terkena sengatan binatan uceng ini.
Pengendalian :
Melakukan pengurangan bahan organik di dalam kolam. Melakukan pembersihan kolam, pergantian air dan juga mengurangi tanaman lain di dalam kolam.
 
Belut
Gejala : ikan akan mati, menghilang dan juga ikan akan mengalami depresi laut ( takut). Hal ini akan mengakibatkan penurunan pada produksi ikan.
Pengendalian :
­Melakukan pengeringan kolam dengan baik.
­Menutup lubang – lubang kecil yang ada di sekitar kolam
­Melakukan pergantian air yang bersih.

Ular sawah
Gejala : ikan akan habis di dalam kolam, tidak terdapatnya ikan di atas permukaan air dan lainnya.
Pengendalian :
­Pembuatan jaring halus di atas permukaan kolam.
­Pembersihan tanaman liar di sekitar kolam.
­Membuat perangkap ular.

Hama lainnya yang sering menyerang ikan bawal adalah burung, kepting kasar, kumbang air, lernea dan juga ikan predator lainnya.

PENYAKIT IKAN BAWAL
Penyakit Jamur
Penyebab : jamur Sprolognia sp dan Achlya sp.
Gejala : ikan akan terdapat jamur berwarna keputihan hingga ke abu-abuan, bobot berkurang, gerakan lambat, dan juga akan mengakibatkan angka kematian yag tinggi.
Pengendalian :
Menjaga kualitas air, memberikan pakan tambahan yang bergizi dan juga menjaga kualitas kolam.
Ikan terserang harus di lakukan perendaman dengan larutan formalin atau Malacyte green sesuai dengan petunjuk.

Penyakit Bintik Putih
Penyebab : protozoa Ichthyopthirus multifliis.
Gejala : permukaan kulit terdapat bintik putih, ikan berwarna pucat dan juga gerakan sangat lambat. Serta nafsu makan berkurang.
Pengendalian :
Menjaga kualitas air, dan juga melakukan pembersihan kolam dengan baik.
Melakukan perendaman ikan terserang dengan larutan formalin atau garam selama 1-2 jam.

Trichodiniasis
Penyebab : Trichodina sp
Gejala : ikan terserang akan pucat, terdapat pendarahan pada ikan di bagian insang, sirp dan kulit yang di serang penyakit ini.
Pengendalian :
Menjaga kualitas air, memberikan pakan tamabahan bernutrisi dan juga menaikan suhu air.
Melakukan filterisasi dan perendaman ikan terserang dengan garam atau vaksinasi sesuai petunjuk.

Bakteri
Penyebab : Bakteri Aeromonas dan Pseudomonas.
Gejala : nafsu makan ikan berkurang, ikan berwarna pucat, gerakan lambat dan bobot badan menurun.
Pengendalian :
Melakukan pergantian air secara teratur.
Melakukan perendaman ikan terserang dengan larutan formalin, bakterisida dan juga vaksinasi sesuai petunjuk.

Virus
Penyebab : Koi Herves Virus ( KHV )
Gejala : ikan akan mati tiba- tiba, ikan juga akan sering ke permukaan, gerakan lambat dan juga akan menurunkan produktivitas.
Pengendalian :
Menjaga kualitas air, kolam dan melakukan pembersihan kolam.
Melakukan perendaman ikan terserang dengan larutan vaksinasi atau formalin dan zat lainnya sesuai dosis.
Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah
Saat ini para pembudi daya ikan sudah mulai memberikan pakan pengganti atau pun pakan tambahan untuk ikan yang dibudidayakannya. Selain untuk menghemat biaya produksi, pakan pengganti ikan ini juga lebih kaya gizi dan nutrisi daripada pelet pabrikan.
Begitu banyak jenis pakan ikan yang bisa dibudidayakan bersamaan dengan budi daya ikan yang Anda lakukan. Salah satunya adalah azolla.
Kandungan azolla yang cukup tinggi yaitu 31,25% protein, 6,5% karbohidrat, 7,5 % lemak, 13% serat kasar dan 3,5 % gula terlarut sehingga baik dijadikan pakan alternatif. 
Azolla merupakan tumbuhan paku air yang daunnya mengapung di permukaan dan akarnya menggantung di bawah air. Azolla termasuk tanaman paku yang mudah dibudidayakan dan cepat pertumbuhannya. Jenis ikan yang dapat diberi pakan alternatif azolla merupakan ikan jenis herbivora yaitu ikan gurami, ikan mas, ikan tawes, ikan karper, ikan lele, ikan nila dan lainnnya. Berikut hal yang harus diperhatikan untuk membudidayakan azolla :

Persiapan Kolam
Azolla bisa dibudidayakan di dalam kolam tanah atau pun kolam terpal dengan ukuran minimal 2m x 1m. Azolla sebaiknya ditempatkan pada kolam yang sesuai habitatnya, kolam tanah sebaiknya di rawa dan sawah, sedangkan pada kolam terpal sebaiknya diberi lumpur.

Media Kolam Bibit Azolla
  1. Sebelum bibit azolla dimasukkan dalam kolam, Anda harus mempersiapkan beberapa hal sebagai berikut:
  2. Persiapkan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau urea dengan ketebalan sekitar 5cm.
  3. Kolam diisi air dengan ketinggian antara 5cm – 15cm dari lumpur.
  4. Kolam dibiarkan sekitar dua minggu sampai pupuk terfermentasi sempurna baru kemudian bibit azolla bisa dimasukan ke dalam kolam.
Pemeliharaan Azolla
  1. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan untuk pertumbuhan azolla yang baik:
  2. Tambahkan 50ml/m2 probiotik biocatfish setiap dua hari sekali.
  3. Pemberian nutrisi tambahan menggunakan SP36 15gr/m2 atau satu sendok makan.
  4. Menggunakan pupuk kandang yang sudah direndam dalam air selama dua minggu da tidak mengeluarkan bau lagi. Penggunaannya yaitu dengan melarutkan 10 gram pupuk kandang ke dalam air untuk disiramkan pada 1 m2 dan lakukan pemupukan satu minggu sekali.
Penebaran Bibit Azolla
Penebaran bibit azolla yang ideal adalah sekitar 50 gram-70 gram per meter persegi. Kemudian diamkan sampai sekitar dua minggu atau lebih dan tetap menjaga ketinggian air.

Panen Azolla
  1. Azolla yang sehat memiliki kecepatan pertumbuhan 35% per hari. Pada umumnya azolla dapat dipanen dalam waktu 5-15 hari.
  2. Sebaiknya pemanenan dilakukan hanya 50% azolla saja. Agar azolla tetap berkembang. Selanjutnya azolla bisa dipanen setiap 1-2 minggu sekali.
  3. Ikan dapat mengonsumsi azolla dalam bentuk segar atau dalam bentuk tepung yang diformulasikan dengan bahan pakan lain menjadi pelet. Pemberian azolla sebagai pakan ikan dalam bentuk segar ke dalam kolam sebaiknya menggunakan azolla muda yang berumur sekitar 20 hari dengan dosis 50-80% dari berat badan ikan setiap harinya.



Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah



Rumput Bandotan (Ageratum conyzoides L.)
Tanaman bandotan (Ageratum conyzoides L.) tergolong ke dalam tumbuhan terna semusim, tumbuh tegak atau bagian bawahnya berbaring, tingginya sekitar 30-90 cm, dan bercabang. Batang bulat berambut panjang, jika menyentuh tanah akan mengeluarkan akar. Daun bertangkai, letaknya saling berhadapan dan bersilang (compositae), helaian daun bulat telur dengan pangkal membulat dan ujung runcing, tepi bergerigi, panjang 1-10 cm, lebar 0,5-6 cm, kedua permukaan daun berambut panjang dengan kelenjar yang terletak di permukaan bawah daun, warnanya hijau.

Bunga majemuk berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata yang keluar dari ujung tangkai, warnanya putih. Panjang bonggol bunga 6-8 mm, dengan tangkai yang berambut. Buahnya berwarna hitam dan bentuknya kecil. Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya Bandotan dapat diperbanyak dengan biji. Bandotan berasal dari Amerika tropis.

Di Indonesia, bandotan merupakan tumbuhan liar dan lebih dikenal sebagai tumbuhan pengganggu (gulma) di kebun dan di ladang. Tumbuhan ini, dapat ditemukan juga di pekarangan rumah, tepi jalan, tanggul, dan sekitar saluran air pada ketinggian 1-2.100 m di atas permukaan laut (dpl). Jika daunnya telah layu dan membusuk, tumbuhan ini akan mengeluarkan bau tidak enak.

Nama Lokal Rumput Bandotan
NAMA DAERAH: Sumatera: bandotan, daun tombak, siangit, tombak jantan, siangik kahwa, rumput tahi ayam. Jawa: babadotan, b. leutik, babandotan, b. beureum, b. hejo, jukut bau, ki bau, bandotan, berokan, wedusan, dus wedusan, dus bedusan, tempuyak. Sulawesi: dawet, lawet, rukut manooe, rukut weru, sopi. NAMA ASING : Sheng hong ji (C), bulak manok (Tag.), ajganda, sahadevi (IP), billy goat weed, white weed, bastard agrimony (I), celestine, eupatoire bleue. NAMA SIMPLISIA: Agerati Herba (herba bandotan), Agerati Radix (akar bandotan).

Komposisi Rumput Bandotan

Herba bandotan mengandung asam amino, organacid, pectic substance, minyak asiri kumarin, ageratochromene, friedelin, ß-sitosterol, stigmasterol, tanin, sulfur, dan potassium chlorida. Akar bandotan mengandung minyak asiri, alkaloid, dan kumarin.

Pemanfaatan Rumput Bandotan

Daunnya berkhasiat sebagai pakan ikan terutama ikan mas, tawes dan gurami. Cara pemberian berdasarkan bobot ikan total. Setiap 100 kg bobot ikan diberi 30 kg daun bandotan. Caranya tanaman ditebarkan keseluruh kolam secara merata.

Daun bandotan juga bisa dipakai sebagai obata stres selama transportasi. Caranya, ambil 20 lembar daun, lalu remas-remas dijeriken yang sudah diisi air. Ampas sebaiknya dimasukkan kejeriken.
Namun, bila memakai kantung plastik sebaiknya ampas dibuang. Setelah itu, bibit ikan dimasukkan dengan pengaturan densitas agar tidak terlalu padat. Setiap kantung berkapasitas 50 liter air dapat diisi 200 bibit ukuran 1 inchi.

Menurut penelitian Laksmi Sulmartiwi dkk, dari Universitas Airlangga, Minyak esensial dari Ageratum conyzoides daun sebagai berpotensi untuk mengurangi zat mengurangi stres ikan koi terkait transportasi (C. carpio) karena memiliki pengaruh terhadap stres respon yaitu, penurunan plasma darah, kadar kortisol, tachiventilasi, glukosa darah, peningkatan Na + dan Cl- dalam plasma darah dan tidak terjadi kematian selama transportasi.
Website resmi Organisasi IPKANI Kabupaten Purbalingg Provinsi jawa Tengah

Umumnya pada saat benih ikan baru menetas, larva ikan mendapatkan makanan dari kuning telur yang terdapat dalam tubuhnya.  Setelah kuning telur habis maka larva ikan harus mendapatkan makanan dari luar, periode ini adalah masa kritis untuk larva ikan sebab dia harus belajar mendapatkan makanan dari luar. 
Jika makanan tidak cukup tersedia maka larva ikan akan mati atau tubuhnya menjadi lemah sehingga tidak tahan terhadap serangan penyakit.  Pada stadia larva, ikan masih lemah secara fisik maupun biologis. Larva ikan harus memilih makanan tertentu yang mudah “ditangkap” dan mudah dicerna.
Enzim pencernaan yang mereka miliki masih belum lengkap sehingga makanan yang dikonsumsi harus yang mudah dicerna. Oleh karena itu makanan larva biasanya berasal dari makanan alami, seperti diatom, artemia,atau plankton hewan kecil lainnya.
Makanan buatan yang diberikan kepada larva harus berukuran sangat halus, bentuknya seperti tepung (powder).  Resep untuk makanan buatan ini sebagian besar harus berasal dari protein hewani, seperti tepung ikan, tepung tulang, tepung cumi dan sebagainya.  Minyak ikan dan vitamin juga diperlukan untuk ketahanan dan perkembangan larva ikan.  Makanan buatan untuk larva harus mengandung protein minimal 40 %, serat kasar maksimal 2 %, serta lemak sekitar 7 %.
Setelah larva berumur 3-4 minggu ketahanan tubuhnya sudah jauh lebih baik, sistem pencernaan juga sudah berkembang mendekati sempurna.  Makanan yang diberikan berubah dari tepung menjadi butiran halus, kandungan protein bisa diturunkan jari minimal 37 %, serat kasar maksimal 3,5 %.
Faktor yang tidak kalah penting selain dari mutu makanan adalah jumlah makanan harus tersedia untuk mencukupi kebutuhan ikan tersebut.  Jika larva ikan kurang makan maka saluran pencernaan tidak berkembang dengan baik, akibatnya sampai ikan besar makanan yang dikonsumsi tidak bisa banyak sebab daya tampungnya memang kecil. Dampaknya laju pertumbuhan ikan jadi lambat.
Karena saluran pencernaan ikan masih sederhana dan pendek maka ikan jadi “cepat lapar”, oleh karena itu makanan ikan harus diberikan 5-7 kali dalam sehari.  Benih ikan yang selalu dalam keadaan kenyang dapat dilihat dari bentuk perutnya yang agak bulat.  Jika saluran pencernaan selalu terisi makanan maka saluran pencernaan dapat berkembang lebih baik dan lebih cepat.
Ikan akan cenderung makan lebih banyak sehingga pertumbuhan bisa cepat.Benih ikan cenderung lebih menyukai makanan buatan yang kita berikan sebab relatif lebih mudah mendapatkannya dibanding harus “berburu” makanan alami di kolam yang luas.  Disamping itu makanan alami seperti Diatom hanya tersedia pada waktu tertentu saja dan jika kolam tidak dipupuk makanan alami akan cepat habis.
Oleh karena itu pemberian makanan buatan untuk larva dan benih ikan sangat diperlukan dan penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan sampai besar.  Makanan buatan harus yang bergizi tinggi dan ukurannya harus halus sesuai dengan ukuran mulut ikan, selamat mencoba.